Anda ingin Berwisata Di Tempat Yang Mistis? Di sinilah Tempatnya!

Gua Kreo yang ada di tengah waduk Jatibarang. Lokasi destinasi pariwisata anyar ini berada di Kel.Kandiri, Kec. Gunung Pati, Kota Semarang. Di Gua ini baru diolah potensi wahana secara serius oleh Pemerintah dari Kota Semarang pada tahun 2014. Oleh karena itu, belum begitu banyak orang luar daerah mengetahui mengenai keberadaan gua ini. Padahal, di Gua Kreo hanya dapat di temouh selama setengah jam perjalanan dari pusat perkotaan Kota Semarang.

berwisata di tempat mistis

Gua Kreo sangat dikenal sebagai wisata destinasi wisata alam sekaligus di jadikan tempat yang spiritual. Banyak pengunjung mengalami mengalami hal yang begitu aneh yang sulit dijelaskan dengan logika.

Legenda mengenai Kera Gaib di Gua Kreo mungkin dapat menjelaskan mengapa gua tersebut bisa dianggap diselimuti oleh suasana mistis serta menjadi pusat pariwisata spiritual. Legenda mengatakan tentang Kera-kera gaib tersebut yaitu pengikut Sunan Kalijaga. Mereka merupakan penghuni asli Gua Kreo.

Alkisah, dari Sunan Kalijaga memerlukan sebuah kayu jati untuk membangun pondasi untuk Masjid Agung Demak. Beliau pun mengunjungi sebuah hutan di sekitar Gua Kreo serta mulai menebang batang pohon jati. Tetapi usaha beliau selalu gagal. Sebab lelah, beliau memutuskan untuk bersantai-santai di dalam gua.

Monyet dengan ekor panjang yang mendekati Sunan Kalijaga di dalam gua itu adalah sekawanan monyet gaib. Dengan bulu warna-warni mereka yaitu melambangkan sifat masing-masing manusia. Kera berbulu merah yaitu melambangkan sifat berani, kera yang berbulu putih yaitu melambangkan sifat suci, kera berbulu kuning yaitu melambangkan angin, serta kera berbulu hitam yaitu melambangkan kesuburan tanah.

Kemudian Sunan Kalijaga lantas meminta petunjuk kepada Allah agar bisa menebang sebuah pohon yang dimaksud agar mendapatkan ajakan dari pasukan para monyet. Ternyata, tidak berheti di situ Sunan Kalijaga harus menggunakan selendangnya di buat menebang pohon. Petunjuk itu ternyata benar adanya, dengan batang pohon yang begitu besar bisa terbelah menjadi dua. Lalu Sunan Kalijaga kemudian membawa sebuah pohon itu ke lokasi persemediannya di dalam Gua Kreo.

Selang hingga beberapa waktu, Sunan Kalijaga bersiap untuk ke Demak membawa sebuah batang pohon jati yang beliau ditebang beliau. Sebelum Sunan Kalijaga akan pergi, kera-kera tersebut menghentikan langkah beliau meminta ikut. Tetapi demikian, permohonan tersebut telah ditolak Sunan Kalijaga. Beliau mengucapkan, Kreo!, yang artinya Jagalah! Ujaran dari Sunan Kalijaga itulah legenda nama gua sekarang.

Masyarakat memberikan sesaji Rewondo adalah sebuah aktivitas budaya ketika akan muncul akibat mitos monyet gaib yang ada di Gua Kreo. Setiap tiba pada bulan Sawal, masyarakat setempat memberikan sesaji untuk monyet penjaga gua. Sesaji untuk para monyet ini tidak boleh dimakan oleh manusia. Apabila manusia memakan sesaji tersebut, biasanya ada fenomena aneh di luar logika manusia.

Gua Kreo yang ada di tengah waduk Jatibarang. Lokasi destinasi pariwisata anyar ini berada di Kel.Kandiri, Kec. Gunung Pati, Kota Semarang. Di Gua ini baru diolah potensi wahana secara serius oleh Pemerintah dari Kota Semarang pada tahun 2014. Oleh karena itu, belum begitu banyak orang luar daerah mengetahui mengenai keberadaan gua ini. Padahal, di Gua Kreo hanya dapat di temouh selama setengah jam perjalanan dari pusat perkotaan Kota Semarang.

Gua Kreo sangat dikenal sebagai wisata destinasi wisata alam sekaligus di jadikan tempat yang spiritual. Banyak pengunjung mengalami mengalami hal yang begitu aneh yang sulit dijelaskan dengan logika.

Legenda mengenai Kera Gaib di Gua Kreo mungkin dapat menjelaskan mengapa gua tersebut bisa dianggap diselimuti oleh suasana mistis serta menjadi pusat pariwisata spiritual. Legenda mengatakan tentang Kera-kera gaib tersebut yaitu pengikut Sunan Kalijaga. Mereka merupakan penghuni asli Gua Kreo.

Alkisah, dari Sunan Kalijaga memerlukan sebuah kayu jati untuk membangun pondasi untuk Masjid Agung Demak. Beliau pun mengunjungi sebuah hutan di sekitar Gua Kreo serta mulai menebang batang pohon jati. Tetapi usaha beliau selalu gagal. Sebab lelah, beliau memutuskan untuk bersantai-santai di dalam gua.

Monyet dengan ekor panjang yang mendekati Sunan Kalijaga di dalam gua itu adalah sekawanan monyet gaib. Dengan bulu warna-warni mereka yaitu melambangkan sifat masing-masing manusia. Kera berbulu merah yaitu melambangkan sifat berani, kera yang berbulu putih yaitu melambangkan sifat suci, kera berbulu kuning yaitu melambangkan angin, serta kera berbulu hitam yaitu melambangkan kesuburan tanah.

Kemudian Sunan Kalijaga lantas meminta petunjuk kepada Allah agar bisa menebang sebuah pohon yang dimaksud agar mendapatkan ajakan dari pasukan para monyet. Ternyata, tidak berheti di situ Sunan Kalijaga harus menggunakan selendangnya di buat menebang pohon. Petunjuk itu ternyata benar adanya, dengan batang pohon yang begitu besar bisa terbelah menjadi dua. Lalu Sunan Kalijaga kemudian membawa sebuah pohon itu ke lokasi persemediannya di dalam Gua Kreo.

Selang hingga beberapa waktu, Sunan Kalijaga bersiap untuk ke Demak membawa sebuah batang pohon jati yang beliau ditebang beliau. Sebelum Sunan Kalijaga akan pergi, kera-kera tersebut menghentikan langkah beliau meminta ikut. Tetapi demikian, permohonan tersebut telah ditolak Sunan Kalijaga. Beliau mengucapkan, Kreo!, yang artinya Jagalah! Ujaran dari Sunan Kalijaga itulah legenda nama gua sekarang.

Masyarakat memberikan sesaji Rewondo adalah sebuah aktivitas budaya ketika akan muncul akibat mitos monyet gaib yang ada di Gua Kreo. Setiap tiba pada bulan Sawal, masyarakat setempat memberikan sesaji untuk monyet penjaga gua. Sesaji untuk para monyet ini tidak boleh dimakan oleh manusia. Apabila manusia memakan sesaji tersebut, biasanya ada fenomena aneh di luar logika manusia.

Referensi: http://www.javaloka.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *